Teh Cahya dikelilingi petani bahan alam, peneliti di laboratorium, dan fasilitas manufaktur kosmetik di depan peta Indonesia

Tentang Teh Cahya — Chapter 07: Connecting Knowledge. Creating Possibilities. Building a Better Cosmetic Ecosystem Together. Dari penelitian bahan alam hingga inovasi produk dan edukasi keamanan kosmetik.

CHAPTER 07 / CONNECTING KNOWLEDGE. CREATING POSSIBILITIES.

Building a Better Cosmetic Ecosystem Together

Dari penelitian bahan alam hingga inovasi produk dan edukasi keamanan kosmetik.

Setelah lebih dari 25 tahun berkecimpung di dunia kosmetik, ada sesuatu yang semakin menarik perhatian Teh Cahya.

Bukan hanya bagaimana sebuah formula dikembangkan. Bukan pula bagaimana sebuah produk diproduksi, memperoleh izin edar, atau sampai ke tangan konsumen.

Tetapi bagaimana seluruh ekosistem yang memungkinkan produk itu tercipta dapat tumbuh bersama.

Selama perjalanan kariernya, Teh Cahya telah melihat industri kosmetik Indonesia dari banyak sisi. Dari meja laboratorium, pengembangan produk, konsultasi dengan pemilik brand, hingga persoalan yang dihadapi fasilitas manufaktur.

Ia menyaksikan semakin banyak pelaku usaha memasuki industri ini. Semakin banyak gagasan produk bermunculan. Kebutuhan terhadap bahan baku, teknologi, dan kemampuan pengembangan produk pun semakin beragam.

Namun, di balik pertumbuhan tersebut, ada persoalan yang terus mengusiknya.

“When you truly care about an industry, you begin to care about everyone who makes it possible.”

THE WEALTH BENEATH OUR FEET

Kekayaan alam yang belum tentu siap digunakan

Petani memanen buah sacha inchi sementara peneliti memeriksa minyak hasil sulingan di laboratorium

Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa. Berbagai tanaman dan komoditas berpotensi dikembangkan menjadi bahan baku kosmetik bernilai tambah.

Tetapi potensi alam tidak otomatis menjadi bahan baku yang siap digunakan industri.

  • Ada proses pengolahan.
  • Ada standardisasi.
  • Ada pengujian keamanan dan mutu.
  • Ada konsistensi kualitas yang harus dijaga.

Dan tidak semua pihak memiliki akses terhadap pengetahuan, fasilitas, atau jaringan yang dibutuhkan untuk melewati proses tersebut.

The potential was there. The connections were not always there.

WHEN KNOWLEDGE LIVES IN DIFFERENT WORLDS

Ketika pengetahuan hidup di dunia yang berbeda

Teh Cahya berdiskusi dengan dua peneliti di laboratorium, dikelilingi bahan alam dan sampel kosmetik

Kedekatan Teh Cahya dengan dunia akademik sebenarnya telah tumbuh jauh sebelum ia kembali menempuh pendidikan formal.

Melalui kegiatan sebagai dosen tamu dan berbagai pertemuan akademik, termasuk di Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, ia memiliki kesempatan untuk berdiskusi dengan profesor, dosen, dan peneliti dari berbagai bidang. Percakapan-percakapan itu membuka perspektif baru.

Di kampus dan lembaga penelitian, ada banyak pengetahuan yang sedang dikembangkan. Ada penelitian tentang bahan alam, senyawa aktif, teknologi formulasi, dan berbagai kemungkinan aplikasi kosmetik.

Sementara itu, di dunia industri, Teh Cahya mengenal persoalan yang sangat nyata:

  • Pemilik brand membutuhkan produk yang relevan dengan pasar.
  • Formulator membutuhkan bahan dengan spesifikasi yang jelas.
  • Pabrik membutuhkan proses yang konsisten.
  • Dan konsumen membutuhkan produk yang aman.

Keduanya memiliki sesuatu yang dibutuhkan satu sama lain. Tetapi tidak selalu mengetahui bagaimana cara bertemu.

Peneliti mungkin memahami karakter suatu senyawa, tetapi belum tentu memiliki akses terhadap kebutuhan pengembangan produk di industri. Sebaliknya, pelaku industri mungkin membutuhkan inovasi bahan aktif, tetapi tidak mengetahui bahwa penelitian yang relevan sedang dilakukan di sebuah laboratorium dalam negeri.

Di titik lain, para petani dan pengolah bahan alam juga menghadapi tantangan tersendiri: bagaimana hasil budidaya dapat diolah menjadi material yang memenuhi kebutuhan industri kosmetik.

Teh Cahya mulai melihat bahwa persoalannya bukan semata-mata kurangnya sumber daya atau kurangnya orang-orang berpengetahuan.

Sering kali, persoalannya adalah bagaimana pengetahuan, kemampuan, dan kebutuhan yang tersebar itu dapat dipertemukan.

FROM LOCAL RESOURCES TO REAL APPLICATIONS

Dari sumber daya lokal menjadi aplikasi nyata

Buah sacha inchi, minyak yang menetes ke labu erlenmeyer, dan krim kosmetik di meja laboratorium

Salah satu perjalanan kolaborasi tersebut berkembang melalui penelitian dan pengembangan sacha inchi.

Tanaman yang berasal dari kawasan Amazon ini juga dibudidayakan di Indonesia dan memiliki potensi sebagai sumber minyak nabati untuk aplikasi kosmetik.

Namun, menghasilkan minyak dari biji tanaman hanyalah salah satu tahap. Agar dapat digunakan sebagai bahan kosmetik, minyak tersebut perlu dipahami karakteristiknya, dikendalikan mutunya, dievaluasi kestabilannya, dan diuji kesesuaiannya di dalam sistem formulasi.

Bersama Prof. Dr. Sriwidodo, para peneliti Universitas Padjadjaran, serta mitra Quilla, Teh Cahya terlibat dalam perjalanan pengembangan tersebut.

Keterlibatannya tidak berhenti pada diskusi akademik. Ia ikut mendampingi proses pengolahan minyak oleh petani dan mitra pengolah, kemudian membawa perspektif formulasi serta kebutuhan industri ke dalam proses pengembangan dan pengujian produk kosmetik.

  1. Bahan alam dibudidayakan
  2. Minyak diproses dan dikaji
  3. Aplikasi dikembangkan menjadi formula
  4. Formula dievaluasi dan diuji

Perjalanan itu menghasilkan pengembangan produk yang telah melalui pengujian, sekaligus memperlihatkan betapa banyak keahlian yang dibutuhkan untuk membawa sebuah bahan menuju aplikasi nyata.

“A promising ingredient is a beginning. Making it useful takes a whole ecosystem.”

MORE ACTIVE INGREDIENTS

Dari kurkumin, brazilin, hingga katekin

Pengalaman serupa terus berkembang melalui kolaborasi penelitian lainnya.

Bersama para akademisi dan peneliti, termasuk melalui lingkungan penelitian LABCOS Unpad, Teh Cahya ikut terlibat dalam pengembangan aplikasi kosmetik dari berbagai bahan dan senyawa aktif, seperti kurkumin, brazilin, dan katekin.

Masing-masing membawa tantangan yang berbeda. Karakter bahan perlu dipahami. Kemungkinan manfaatnya harus ditinjau berdasarkan bukti ilmiah. Kesesuaiannya dengan sistem formula harus dievaluasi. Stabilitas, mutu, dan aspek keamanan tidak dapat diabaikan.

Penelitian tidak cukup berhenti pada hasil yang menjanjikan di laboratorium. Pertanyaan berikutnya selalu muncul:

Bagaimana pengetahuan tersebut dapat diterjemahkan menjadi produk yang benar-benar dapat dikembangkan dan diuji?

Di sinilah pengalaman panjang Teh Cahya dalam formulasi, pengembangan produk, dan manufaktur bertemu dengan kedalaman ilmu para peneliti. Bukan untuk menggantikan satu keahlian dengan keahlian lain. Melainkan untuk membuat keduanya bekerja bersama.

“Great ideas don't always need more brilliance. Sometimes, they just need the right people to come together.”

WHEN RESEARCH MEETS INDUSTRY

Ketika riset bertemu industri

Teh Cahya menjelaskan sampel krim kepada pemilik brand dan peneliti di laboratorium

Kolaborasi itu kemudian berkembang melampaui lingkungan universitas. Teh Cahya juga membangun hubungan dan kerja sama dengan peneliti serta mitra dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), memperluas kemungkinan pertemuan antara riset, pengembangan bahan, dan kebutuhan industri kosmetik.

Namun, ada satu tantangan yang tidak selalu selesai ketika penelitian berhasil menghasilkan prototipe produk.

Siapa yang akan membawa inovasi tersebut lebih jauh?

Sebuah hasil penelitian dapat memiliki dasar ilmiah yang kuat. Sebuah formula dapat menunjukkan hasil pengembangan yang menjanjikan. Tetapi untuk melangkah menuju pemanfaatan industri, masih dibutuhkan pihak yang memahami kebutuhan konsumen, strategi produk, kesiapan manufaktur, serta peluang pasar.

Di sisi lain, Teh Cahya telah lama berhubungan dengan para pemilik brand yang membutuhkan inovasi dan diferensiasi produk. Dua kebutuhan itu kembali bertemu.

Melalui pendekatan Intellectual Property Manufacturing (IPM), Teh Cahya ikut mempertemukan penelitian dan kepakaran akademik dengan kebutuhan pengembangan produk dari para pelaku industri.

  • Peneliti membawa pengetahuan dan hasil risetnya.
  • Formulator mengevaluasi kemungkinan penerapannya.
  • Mitra manufaktur mempertimbangkan bagaimana produk dapat dikembangkan dan diproduksi.
  • Pemilik brand membawa pemahaman tentang konsumen dan kebutuhan pasar.

Setiap pihak memiliki kontribusi yang berbeda. Dan setiap kontribusi perlu dihargai, termasuk kepakaran, kepengarangan ilmiah, serta hak kekayaan intelektual yang melekat pada hasil penelitian.

Bagi Teh Cahya, nilai kolaborasi bukan terletak pada banyaknya nama yang terlibat, tetapi pada apakah hubungan tersebut benar-benar membantu pengetahuan menemukan penerapan yang bermanfaat.

KNOWLEDGE THAT PROTECTS

Pengetahuan yang melindungi

Teh Cahya berbicara sebagai pembicara di depan layar presentasi tentang bahan dan formulasi kosmetik

Kepedulian Teh Cahya terhadap ekosistem kosmetik Indonesia tidak berhenti pada pengembangan bahan dan inovasi produk. Ada sisi lain yang tidak kalah penting: keamanan kosmetik dan pemahaman masyarakat terhadap produk yang mereka gunakan.

Pengalaman di industri membuatnya memahami bahwa sebuah produk tidak cukup hanya menarik secara konsep, menyenangkan ketika digunakan, atau menjanjikan manfaat tertentu. Ada tanggung jawab yang menyertainya.

Keamanan bahan, kesesuaian formulasi, proses produksi, mutu, kepatuhan terhadap regulasi, serta ketepatan klaim menjadi bagian dari tanggung jawab tersebut.

Persoalan kosmetik yang tidak memenuhi ketentuan, klaim yang menyesatkan, hingga praktik penggunaan bahan berbahaya menunjukkan mengapa pengetahuan mengenai keamanan kosmetik perlu terus dibagikan.

Teh Cahya pun aktif hadir sebagai pembicara dalam kegiatan edukasi dan forum profesional, termasuk yang diselenggarakan oleh BPOM, Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), serta berbagai universitas.

Di ruang-ruang tersebut, pengalaman industri bertemu dengan tanggung jawab profesi. Apa yang selama bertahun-tahun dipelajari melalui pengembangan formula, pengujian, manufaktur, dan regulasi dibawa menjadi pengetahuan yang dapat dipahami serta dimanfaatkan oleh orang lain.

Audiensnya bisa berbeda-beda:

  • Mahasiswa yang sedang membangun pemahaman dasar.
  • Apoteker dan tenaga profesional yang membutuhkan perspektif aplikatif.
  • Pelaku usaha yang perlu memahami tanggung jawab di balik sebuah produk.
  • Atau masyarakat yang ingin membuat keputusan lebih baik ketika memilih kosmetik.

Tetapi ada satu benang merah yang sama.

Pengetahuan tentang kosmetik seharusnya tidak hanya membantu industri menghasilkan produk. Pengetahuan juga harus membantu melindungi orang yang menggunakannya.

GROWING TOGETHER

Tumbuh bersama

Semakin jauh perjalanan Teh Cahya, semakin luas pula orang-orang yang hadir di dalamnya.

  • Petani dan pengolah bahan alam.
  • Profesor, dosen, dan peneliti.
  • Formulator dan tenaga pengujian.
  • Pelaku manufaktur.
  • Pemilik brand.
  • Apoteker, regulator, dan komunitas profesional.

Masing-masing bekerja dari ruang yang berbeda, dengan tanggung jawab dan kemampuan yang tidak selalu sama. Tetapi sebuah ekosistem yang lebih baik tidak dapat dibangun hanya dari satu ruang. Ia membutuhkan orang-orang yang bersedia memahami persoalan pihak lain, mempertemukan kemampuan yang saling melengkapi, dan bekerja bersama melewati proses yang tidak selalu sederhana.

Dalam perjalanan itu, Teh Cahya tidak selalu berada pada peran yang sama.

  • Kadang ia menjadi formulator yang membantu menerjemahkan penelitian menjadi aplikasi produk.
  • Kadang menjadi praktisi yang membawa persoalan industri ke dalam diskusi akademik.
  • Kadang menjadi penghubung antara peneliti dan pemilik brand.
  • Dan di kesempatan lain, ia berdiri di hadapan audiens untuk membagikan pengetahuan tentang keamanan kosmetik.

Perannya dapat berubah. Tetapi kepedulian yang menghubungkan berbagai aktivitas tersebut tetap terasa.

“What matters is not only what we achieve, but what becomes possible for others because we were there.”

Selama lebih dari 25 tahun, perjalanan Teh Cahya telah membawanya melewati banyak persoalan, lingkungan kerja, dan pertemuan dengan orang-orang yang memiliki keahlian berbeda. Dari hubungan-hubungan itulah, kepercayaan profesional perlahan tumbuh.

  • Ada peneliti yang mengajaknya terlibat dalam pengembangan produk.
  • Ada akademisi yang membuka ruang untuk berdiskusi dan bekerja bersama.
  • Ada pelaku industri yang meminta pertimbangannya ketika menghadapi persoalan formulasi, pengembangan, atau manufaktur.
  • Dan ada lembaga serta komunitas profesional yang mengundangnya untuk berbagi pengetahuan.

Dalam pandangan orang-orang yang bekerja bersamanya, pengalaman panjang tersebut mulai memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kemampuan membuat formula. Mereka menemukan seseorang yang memahami bagaimana ilmu pengetahuan bertemu dengan persoalan nyata—dan mengetahui kapan sebuah jawaban membutuhkan pengujian, diskusi, atau keahlian orang lain.

Dari sanalah, sebutan pakar perlahan memperoleh maknanya. Bukan semata karena sebuah gelar. Bukan pula karena seseorang menyatakannya tentang dirinya sendiri. Melainkan melalui kepercayaan yang tumbuh ketika pengetahuan, pengalaman, dan pertimbangan profesional terus dibutuhkan oleh orang lain.

And perhaps, that is where expertise begins to speak for itself.

The story continues.