Tentang Teh Cahya — 06 / Learn It. Live It. Share It.: Share the Knowledge. Shape the Future. Through Books, Teaching, Consulting, and a Lifetime of Cosmetic Science.
06 / LEARN IT. LIVE IT. SHARE IT.
Share the Knowledge. Shape the Future.
Through Books, Teaching, Consulting, and a Lifetime of Cosmetic Science.
Ada satu titik ketika pengalaman tidak lagi cukup hanya dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan sendiri.
Setelah bertahun-tahun berada di laboratorium, pabrik, consulting, penelitian, formulasi, dan kolaborasi akademik, Teh Cahya mulai mengubah sebagian dari pengetahuan itu menjadi sesuatu yang dapat dipelajari kembali oleh orang lain.
- Ditulis
- Diajarkan
- Dibagikan
WHEN EXPERIENCE BECOMES A BOOK
Ketika pengalaman menjadi buku
Bagi Teh Cahya, buku tidak lahir dari keinginan untuk sekadar menambah daftar karya. Banyak di antaranya berangkat dari sesuatu yang sudah lama ia kerjakan dan pelajari:
- formula yang pernah dikembangkan,
- bahan yang pernah diteliti,
- pertanyaan yang berulang kali muncul di industri,
- diskusi dengan akademisi dan para ahli,
- pengalaman di pabrik,
- dan persoalan nyata yang pernah harus diselesaikan.
Sedikit demi sedikit, pengalaman itu mulai dikodifikasi.
Hari ini, Teh Cahya telah menulis dan mengembangkan lebih dari 20 judul buku tentang kosmetik, sekaligus aktif sebagai dosen praktisi, dosen tamu, dan pembicara dalam berbagai forum akademik maupun industri kosmetik.
Topik buku-bukunya bergerak dari dasar ilmu kosmetik hingga pembahasan yang lebih lanjut. Sebagian ditulis sendiri. Sebagian lainnya dikembangkan bersama profesor, dermatolog, akademisi, serta para pakar dari bidang kosmetik, farmasi, herbal, dan disiplin terkait.
Di titik itu, sebuah buku tidak lagi hanya menjadi karya personal. Ia menjadi ruang tempat berbagai keahlian bertemu.
- Formulator membawa persoalan formula.
- Dermatolog membawa perspektif kulit.
- Farmasis membawa dasar farmasi.
- Peneliti membawa evidence.
- Pakar herbal membawa pengetahuan bahan.
- Akademisi membawa struktur keilmuan.
Lalu pengetahuan itu dirangkai agar dapat dibaca, digunakan, dan dipelajari kembali oleh orang lain.
“A book allows knowledge to travel further than its author can.”
THE VALUE OF A BOOK
Nilai sebuah buku
Sebagian buku tersebut kemudian digunakan sebagai bahan belajar dan buku pegangan mahasiswa, termasuk dalam pendidikan yang berkaitan dengan ilmu dan rekayasa kosmetik.
Bagi Teh Cahya, fungsi sebuah buku tidak selesai ketika ia dicetak. Nilainya justru mulai terlihat ketika buku itu dibuka oleh seseorang yang sedang belajar.
- Ketika pengalaman bertahun-tahun dapat membantu seseorang memahami sebuah persoalan lebih cepat.
- Ketika teori menjadi lebih dekat dengan praktik.
- Atau ketika satu penjelasan melahirkan pertanyaan baru.
FROM LEARNING TO TEACHING
Dari belajar menjadi mengajar
Berbagi pengetahuan sebenarnya sudah muncul sejak masa awal perjalanan profesional Teh Cahya.
Ketika mulai masuk lebih dalam ke brand development, ia menemukan bahwa menjelaskan produk dan berbagi pengetahuan memberi rasa bahagia yang berbeda. Pengalaman berbagi pengetahuan sejak masa itu menjadi salah satu hal yang terus membekas dalam perjalanan profesionalnya.
Bertahun-tahun kemudian, ruang berbagi itu menjadi lebih luas. Teh Cahya menjadi dosen praktisi dan juga mengajar sebagai dosen tamu di berbagai perguruan tinggi.
Ia tidak datang ke ruang kelas hanya membawa teori. Ia membawa pengalaman tentang:
- formula yang gagal,
- bahan yang harus dipilih dengan hati-hati,
- perbedaan antara prototype dan scale-up,
- regulasi yang memengaruhi pengembangan produk,
- klaim yang harus dijaga oleh evidence,
- dan berbagai persoalan yang baru terlihat ketika sebuah produk benar-benar masuk ke dunia produksi.
Bahkan ketika kembali menjadi mahasiswa, pengalaman panjangnya di industri sering menjadi perspektif tambahan dalam diskusi akademik.
Di sinilah pengalaman praktisi menemukan tempatnya. Bukan untuk menggantikan teori. Tetapi untuk memberikan teori konteks.
“To teach is not to stop learning. It is to make learning visible.”
BEYOND THE CLASSROOM
Melampaui ruang kelas
Knowledge transfer tidak berhenti di ruang kuliah. Industri juga memiliki ruang belajarnya sendiri.
- Seminar.
- Workshop.
- Forum profesional.
- Pameran.
- Diskusi industri.
- Dan panggung tempat akademisi, praktisi, formulator, brand, supplier, regulator, manufaktur, dan berbagai bagian dari ekosistem kosmetik bertemu.
Teh Cahya semakin sering hadir sebagai pembicara dalam berbagai forum dan event industri kosmetik, termasuk Cosmobeauté Indonesia 2025 dan 2026.
Di ruang seperti ini, audiensnya berubah. Kadang mahasiswa. Kadang researcher. Kadang formulator. Kadang pemilik brand. Kadang pelaku manufaktur.
Tetapi tujuan berbagi pengetahuan tetap sama:
membuat pengalaman yang telah dipelajari selama bertahun-tahun menjadi berguna bagi lebih banyak orang.
ONE JOURNEY
Satu perjalanan yang sama
Bagi Teh Cahya, buku, ruang kelas, dan panggung industri bukan tiga aktivitas yang terpisah. Ketiganya adalah cara berbeda untuk membawa pengetahuan keluar dari ruang tempat ia pertama kali ditemukan.
- Apa yang dipelajari dari industri dapat dibawa ke kelas.
- Apa yang ditemukan melalui penelitian dapat dituliskan.
- Apa yang dibahas di forum profesional dapat membuka pertanyaan baru.
- Dan pertanyaan baru sering kali membawa seseorang kembali kepada proses belajar.
Mungkin karena itu, sharing tidak pernah benar-benar terpisah dari learning.
“Knowledge becomes more valuable when it becomes useful beyond the person who learned it.”
Dan ketika buku, ruang kelas, penelitian, industri, dan pengalaman mulai terlihat sebagai bagian dari satu perjalanan yang sama, sebuah pola mulai muncul.
Bukan lagi kumpulan aktivitas yang berdiri sendiri. Tetapi sebuah siklus yang terus bergerak.
The Knowledge Loop.
Chapter berikutnya membahas bagaimana praktik, riset, penulisan, pengajaran, dan pertanyaan-pertanyaan baru terus saling menghidupi.
