Teh Cahya muda berjilbab membawa buku catatan di depan pintu R&D Laboratory

Tentang Teh Cahya — 02 / The Beginning: It Started With a Choice. Before the Formulas, There Was a Principle.

02 / THE BEGINNING

It Started With a Choice.

Before the Formulas, There Was a Principle.

Setelah menyelesaikan pendidikan Farmasi, Teh Cahya belum membayangkan bahwa kosmetik akan menjadi perjalanan profesionalnya selama lebih dari dua dekade.

Ia sempat melihat beberapa kemungkinan.

Dalam salah satu proses melamar kerja, jilbab justru menjadi hal yang dipertanyakan.

Pengalaman itu membuat keputusan tentang pekerjaan tidak lagi hanya tentang posisi atau perusahaan.

Ada pertanyaan yang lebih mendasar:

nilai apa yang tetap ingin dibawa ketika seseorang memasuki dunia profesional?

“Sometimes, the most defining decisions begin with knowing what you will not compromise.”

THE FIRST DOOR

Sebuah kalimat sederhana

Tak lama kemudian, seorang teman memberi tahu sebuah lowongan R&D di perusahaan kosmetik dengan kualifikasi yang cukup spesifik pada masa itu:

apoteker berjilbab.

Sebuah kalimat sederhana.

Tetapi ternyata menjadi pintu menuju perjalanan yang jauh lebih panjang.

Pada September 2000, Teh Cahya bergabung dengan PT Pusaka Tradisi Ibu—Wardah sebagai bagian dari Research & Development (R&D).

Ia masuk dengan bekal Farmasi.

Lalu segera menemukan bahwa dunia kosmetik jauh lebih luas daripada yang pernah ia pelajari di kampus.

THE INDUSTRY BECAME HER FIRST SCHOOL

Di R&D, kosmetik bukan lagi teori

Meja laboratorium R&D dengan gelas beaker berisi emulsi, krim dalam jar, timbangan, dan buku catatan eksperimen

Di R&D, kosmetik tidak lagi hadir sebagai teori.

Ia menjadi sesuatu yang harus dibuat.

  • Bahan harus dipilih.
  • Formula harus dicoba.
  • Sample harus diuji.
  • Tekstur, warna, stabilitas, dan karakter produk harus diamati.

Dan ketika hasilnya tidak sesuai, prosesnya harus dimulai lagi.

Pada masa itu, jawaban tidak selalu tersedia dengan cepat. Proses belajar banyak berlangsung melalui buku, diskusi, percobaan, kesalahan, lalu mencoba kembali.

Teh Cahya mulai memahami satu perbedaan penting:

mengetahui sebuah bahan tidak sama dengan mengetahui bagaimana bahan itu bekerja di dalam sebuah produk.

Salah satu orang yang mengenalnya pada masa awal R&D mengingat kebiasaan Teh Cahya meminta sample bahan, mencobanya sendiri, kemudian memberikan kembali hasil pengujiannya—termasuk ketika hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Dari proses sederhana itu, sebuah pola mulai terbentuk.

Jangan hanya menerima klaim.

  1. Coba
  2. Amati
  3. Bandingkan
  4. Evaluasi
  5. Perbaiki

“The laboratory taught her to test what she thought she knew.”

FROM FORMULA TO SYSTEM

Dari formula menuju sistem

Sekitar satu tahun kemudian, Teh Cahya berpindah dari R&D ke Product Development.

Dan dunianya kembali melebar.

Ia tidak lagi hanya melihat bagaimana formula dibuat. Ia mulai melihat bagaimana sebuah formula harus bertemu dengan kebutuhan produk, pasar, pengembangan, serta komunikasi antara R&D, produksi, marketing, dan bagian lain di dalam perusahaan.

Pertanyaannya pun berubah. Bukan hanya:

“Apakah formula ini bisa dibuat?”

Tetapi juga:

“Apakah produk ini layak dikembangkan?”

Di situlah kosmetik mulai terlihat bukan sebagai formula yang berdiri sendiri, tetapi sebagai sebuah sistem.

Sains harus bertemu kebutuhan manusia. Formula harus bertemu produksi. Produk harus bertemu pasar. Dan gagasan harus melewati proses, regulasi, serta realitas industri sebelum akhirnya sampai kepada pengguna.

Perjalanan berikutnya membawa Teh Cahya semakin dekat dengan brand development, business development, makloon, dan registrasi.

Setiap perpindahan memperluas cara pandangnya. Dari apotek ke R&D, kemudian Product Development, brand development, hingga makloon, setiap pengalaman mempertemukannya dengan persoalan yang berbeda. Apa yang dahulu dipahami dari sudut pandang laboratorium kini harus dipertemukan dengan kebutuhan brand, proses produksi, dan berbagai keputusan yang menentukan apakah sebuah produk benar-benar dapat diwujudkan.

A CHANGING PERSPECTIVE

Cara pandang yang berubah

Sedikit demi sedikit, perspektifnya berubah.

  • Laboratorium mengajarkan bagaimana formula bekerja.
  • Product development memperlihatkan bagaimana sebuah produk dibangun.
  • Brand dan pasar memperlihatkan mengapa produk itu perlu ada.
  • Produksi dan regulasi menunjukkan batas antara ide yang menarik dan produk yang benar-benar bisa diwujudkan.

Pengalaman-pengalaman itu kelak menjadi fondasi bagi cara Teh Cahya melihat kosmetik:

bukan sebagai kumpulan formula, tetapi sebagai rangkaian keputusan yang saling terhubung.

“Every new understanding opens the door to a different challenge.”

Dan perjalanan itu segera membawanya ke pertanyaan yang lebih besar.

Apa yang terjadi ketika seseorang sudah memahami cara mengembangkan produk—tetapi belum memiliki pabrik untuk membuatnya sendiri?