Tentang Teh Cahya — 03 / Learning by Building: The Art of Making Things Possible. Before She Built a Factory, She Learned to Build Opportunities.
03 / LEARNING BY BUILDING
The Art of Making Things Possible.
Before She Built a Factory, She Learned to Build Opportunities.
Ada fase ketika Teh Cahya sudah memahami bagaimana produk kosmetik dikembangkan.
Ia telah melewati R&D, product development, brand development, business development, makloon, registrasi, produksi, hingga berbagai persoalan yang muncul ketika sebuah ide harus menjadi produk nyata.
Lalu sekitar 2012, situasinya berubah.
Teh Cahya mulai bergerak lebih mandiri.
Dan muncul sebuah keadaan yang sederhana untuk dijelaskan, tetapi tidak sederhana untuk diselesaikan:
ada customer yang ingin membuat produk—tetapi ia belum memiliki pabrik sendiri.
Tidak ada fasilitas produksi yang bisa langsung digunakan. Tidak ada mesin sendiri. Tidak ada seluruh sistem manufaktur yang berada di bawah kendalinya.
Yang ada adalah pengetahuan tentang produk, pengalaman industri, hubungan dengan customer, dan kemampuan untuk mencari jalan agar sebuah gagasan tetap dapat diwujudkan.
Customers, but no factory.
“Sometimes, what you don't have teaches you how to build what you need.”
BUILDING WITH WHAT SHE HAD
Jika tidak memiliki pabrik
Keterbatasan itu memaksa cara berpikir yang berbeda.
Jika tidak memiliki pabrik, maka pertanyaannya bukan lagi:
“Bagaimana saya memproduksi semuanya sendiri?”
Tetapi:
“Bagaimana produk ini tetap bisa diwujudkan dengan benar?”
Teh Cahya bekerja dari sisi konsep dan pengembangan produk. Kebutuhan customer diterjemahkan menjadi arah produk. Formula dikembangkan. Kemungkinan produksinya dipertimbangkan. Lalu proses manufaktur dilakukan bersama pabrik yang telah memiliki fasilitas dan izin yang sesuai.
Di sinilah pengalaman makloon yang sebelumnya diperoleh mulai mendapatkan arti yang berbeda.
Teh Cahya tidak hanya melihat makloon dari dalam sebuah perusahaan. Ia mulai menggunakannya sebagai bagian dari cara menyelesaikan persoalan nyata bagi customer.
FROM IDEA TO MANUFACTURING
Setiap perpindahan membutuhkan keputusan
Produk harus dapat bergerak dari:
- Ide
- Concept
- Formulation
- Development
- Scale-up
- Manufacturing
Dan setiap perpindahan membutuhkan keputusan.
- Apa yang diinginkan customer belum tentu langsung dapat diformulasikan.
- Apa yang berhasil pada skala kecil belum tentu langsung bekerja ketika diperbesar.
- Apa yang menarik sebagai konsep belum tentu realistis untuk diproduksi.
- Apa yang dapat dibuat belum tentu otomatis siap dipasarkan.
“Making a formula and building a product are not the same thing.”
FROM MAKING PRODUCTS TO BUILDING SYSTEMS
Dari membuat produk, menjadi membangun sistem
Semakin banyak produk yang dikerjakan, semakin terlihat bahwa persoalan industri kosmetik tidak pernah berhenti pada formula.
- Ada bahan baku.
- Ada packaging.
- Ada supplier.
- Ada produksi.
- Ada legalitas.
- Ada kualitas.
- Ada timeline.
- Ada komunikasi dengan customer.
Dan ada banyak pihak yang harus bergerak dalam urutan yang benar.
Teh Cahya mulai melihat pekerjaan bukan hanya sebagai proses membuat produk, tetapi sebagai proses menghubungkan sistem yang memungkinkan produk itu terjadi.
Pada 2013, perjalanan tersebut mulai memiliki wadah usaha yang lebih jelas melalui RayCorp. Catatan biografinya menempatkan fase ini sebagai masa ketika pengalaman Teh Cahya dalam kosmetik—formula, pabrik, kemasan, izin, dan customer—mulai bertemu dengan kebutuhan membangun sebuah usaha dan sistem kerja yang lebih utuh.
Dunia yang harus dipahaminya pun semakin luas. Packaging menjadi salah satunya.
Ia belajar bahwa kemasan bukan sekadar wadah. Kemasan harus melindungi produk, sesuai dengan karakter formula, dapat digunakan dalam proses produksi, sekaligus membantu produk hadir dengan bentuk yang tepat di hadapan pengguna.
Pengalaman mengurus kemasan, percetakan, desain, dan kebutuhan komunikasi produk semakin memperluas cara Teh Cahya melihat industri kosmetik.
Formula ternyata hanyalah satu bagian dari sebuah jaringan keputusan.
A FACTORY CHANGES THE QUESTION
Belajar bagaimana sebuah pabrik dibangun
Perjalanan berikutnya membawa Teh Cahya semakin dekat dengan manufaktur.
Bukan lagi hanya bekerja dengan pabrik. Tetapi belajar bagaimana sebuah pabrik dibangun, dijalankan, dan dipertanggungjawabkan.
Di ruang inilah banyak hal yang sebelumnya terlihat sebagai bagian terpisah mulai bertemu.
- Formula harus bisa diproduksi.
- Bahan harus tersedia dan terkendali.
- Proses harus terdokumentasi.
- Fasilitas harus memenuhi persyaratan.
- Kualitas harus dijaga.
- CPKB harus diterapkan.
- Legalitas harus berjalan.
- Halal harus diterjemahkan ke dalam sistem.
Dan ketika produksi diperbesar, konsistensi tidak boleh ikut hilang.
A factory changes the question.
Bukan lagi sekadar: “Bisakah kita membuat produk ini?”
Tetapi: “Bisakah kita membuatnya dengan benar, konsisten, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan?”
Pengalaman inilah yang kemudian menjadi salah satu fondasi penting ketika Teh Cahya mendampingi industri lain dalam persiapan dan pembangunan pabrik kosmetik, penerapan CPKB, formulasi, halal, serta pengembangan produk.
Consulting memperluas ruang belajarnya sekali lagi. Karena setiap pabrik membawa persoalan yang berbeda. Setiap brand memiliki kebutuhan yang berbeda. Dan solusi yang bekerja di satu tempat belum tentu dapat dipindahkan begitu saja ke tempat lain.
WHAT EACH PLACE TAUGHT
Dari membuat, menjadi membangun
- Dari laboratorium, Teh Cahya belajar tentang formula.
- Dari product development, ia belajar tentang produk.
- Dari customer, ia belajar tentang kebutuhan.
- Dari makloon, ia belajar tentang kolaborasi produksi.
- Dari packaging, ia belajar bahwa produk harus hidup sebagai satu kesatuan.
- Dan dari manufaktur, ia belajar bahwa semua itu membutuhkan sistem.
Sedikit demi sedikit, pekerjaannya berubah. Dari membuat. Menjadi mengembangkan. Kemudian membangun. Lalu mendampingi orang lain membangun.
“Experience becomes judgment when it has been tested across different problems.”
Tetapi semakin banyak persoalan yang berhasil diselesaikan, semakin muncul pertanyaan lain.
Pengalaman dapat mengajarkan apa yang bekerja. Namun apakah pengalaman saja cukup untuk menjelaskan mengapa sesuatu bekerja?
Setelah hampir dua dekade berada di industri, Teh Cahya memilih melakukan sesuatu yang mungkin justru terasa berlawanan dengan panjangnya pengalaman yang sudah dimiliki.
Ia kembali menjadi mahasiswa.
