Peneliti meneteskan larutan dari pipet ke krim di laboratorium, dikelilingi kedelai, serbuk, dan mikroskop

Tentang Teh Cahya — 05 / When Experience Met Science: Research Must Meet Reality. Because a Discovery Is Only the Beginning. Bridging Scientific Discovery, Formulation, and Real-World Application.

05 / WHEN EXPERIENCE MET SCIENCE

Research Must Meet Reality.

Because a Discovery Is Only the Beginning.

Setelah kembali ke dunia akademik, hubungan Teh Cahya dengan penelitian tidak berhenti ketika tesis selesai.

Justru pertanyaannya menjadi semakin praktis.

What happens after the research?

Sebuah bahan telah diteliti. Aktivitasnya terlihat. Data mulai tersedia. Paper dapat ditulis.

Tetapi bagi Teh Cahya, masih ada perjalanan panjang sebelum pengetahuan tersebut benar-benar dapat memberi manfaat di dunia kosmetik.

  • Bisakah bahan itu diformulasikan?
  • Apakah stabil?
  • Apakah kompatibel dengan bahan lain?
  • Bagaimana bentuk sediaannya?
  • Bagaimana konsentrasi yang masuk akal?
  • Apa yang terjadi ketika formula mulai diuji?
  • Apakah manfaat yang ingin diklaim dapat dibuktikan?
  • Bisakah formula tersebut diproduksi dalam skala yang lebih besar?

Dan pada akhirnya:

bisakah sebuah hasil penelitian menemukan jalannya menuju manusia yang membutuhkannya?

THE SPACE BETWEEN RESEARCH AND PRODUCT

Ruang antara penelitian dan produk

Ruang inilah yang kemudian semakin sering ditempati Teh Cahya.

Sebagai researcher dan tenaga ahli di LABCOS Universitas Padjadjaran, Teh Cahya berada di lingkungan yang mempertemukan penelitian, pengujian, pengembangan kosmetik, akademisi, praktisi, dan kebutuhan industri.

Tetapi perannya tidak dimulai dari akademik saja. Ia datang membawa pengalaman yang sudah dibangun jauh sebelumnya:

  • formulasi,
  • product development,
  • manufacturing,
  • scale-up,
  • regulasi,
  • customer,
  • brand,
  • dan berbagai persoalan yang muncul ketika sebuah produk harus benar-benar dibuat.

Karena itu, ketika sebuah penelitian menghasilkan sesuatu yang menarik, Teh Cahya cenderung melihat pertanyaan berikutnya.

Now, how do we make it work?

RAW MATERIALS

Dari bahan alam menjadi ingredient

Salah satu kebutuhan yang semakin jelas adalah pengembangan bahan baku kosmetik.

Indonesia memiliki banyak bahan alam dan potensi penelitian. Tetapi potensi tidak otomatis menjadi ingredient yang siap digunakan industri.

Sebuah bahan masih harus melewati literatur, pengolahan, pengujian, formulasi, dan berbagai penyesuaian sebelum benar-benar dapat bergerak lebih dekat menuju aplikasi kosmetik.

Pengalaman penelitian soy isoflavone yang dimulai dalam perjalanan akademiknya memperkuat cara pandang tersebut.

Bagi Teh Cahya, bahan baku tidak harus selalu dimulai dari pertanyaan:

“Supplier punya bahan apa?”

Ada pertanyaan lain yang bisa diajukan lebih awal:

“Apa yang bisa kita teliti dan kembangkan sendiri?”

Perbedaannya terlihat sederhana. Tetapi arahnya berbeda. Yang pertama dimulai dari sesuatu yang sudah tersedia. Yang kedua dimulai dari kemungkinan untuk menciptakan pengetahuan dan kapabilitas baru.

FROM RESEARCH TO FORMULATION

Setelah discovery, muncul formulation

Formulator mengaduk krim dalam gelas beaker di meja laboratorium, dengan timbangan, jar krim, dan bahan baku

Ketika Teh Cahya semakin banyak berkolaborasi dengan akademisi, peneliti, pakar, dan profesor dari Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung, IPB University, BRIN, dan berbagai lingkungan penelitian lainnya, pola yang sama berulang dalam bentuk yang berbeda.

  • Ada penelitian yang menghasilkan ekstrak.
  • Ada bahan yang menunjukkan aktivitas tertentu.
  • Ada kandidat active ingredient.
  • Ada teknologi.
  • Ada data awal.
  • Ada gagasan yang secara ilmiah menjanjikan.

Tetapi setelah discovery, muncul persoalan berikutnya: formulation.

Sebuah bahan tidak bekerja sendirian ketika masuk ke produk. Ia bertemu air. Minyak. Emulsifier. Preservative. pH. Suhu. Proses. Packaging. Bahan aktif lain. Dan waktu.

Sesuatu yang bekerja dengan baik sebagai bahan penelitian belum tentu berperilaku sama ketika masuk ke dalam sebuah sistem formula.

Karena itu, pekerjaan formulator bukan sekadar memasukkan bahan ke dalam cream atau serum. Formulator harus membantu menjawab:

Dalam sistem seperti apa bahan ini dapat bekerja?

EACH ROOM BRINGS SOMETHING

Setiap pihak membawa sesuatu

Di sinilah pengalaman industri Teh Cahya menjadi bagian dari kolaborasi ilmiah.

  • Akademisi membawa kemampuan membaca data dan melakukan penelitian.
  • Peneliti membawa temuan.
  • Laboratorium membawa instrumen dan kemampuan pengujian.
  • Teh Cahya membawa perspektif formulasi dan pengalaman tentang apa yang akan terjadi ketika sebuah gagasan harus berhadapan dengan produk dan manufaktur.
  • Pabrik kemudian membawa kenyataan produksi.

Dan industri membawa satu pertanyaan yang tidak dapat dihindari:

Can it work in the real world?

Pertemuan seperti inilah yang membuat penelitian tidak harus berhenti sebagai pengetahuan yang tersimpan di satu ruang. Ia dapat bergerak.

  1. Research
  2. Ingredient / Active Development
  3. Testing
  4. Formulation
  5. Product Development
  6. Scale-up
  7. Real-world application

Bukan setiap penelitian harus berakhir menjadi produk. Dan bukan setiap temuan ilmiah siap untuk dihilirisasi.

Tetapi ketika sebuah penelitian memang memiliki potensi aplikasi, harus ada kemampuan untuk membawanya melewati tahap berikutnya.

“Research needs a path, not a shortcut.”

EVIDENCE BEFORE CLAIMS

Pengujian sebelum klaim

Peneliti mencatat hasil pengujian pada grafik dan gambar mikroskop, dengan sampel krim dan bahan di meja

Ada satu bagian lain yang kemudian menjadi semakin penting: pengujian.

Industri kosmetik hidup di tengah klaim. Brightening. Anti-aging. Moisturizing. Soothing. Barrier support. Dan berbagai manfaat lain yang terdengar sederhana ketika ditulis di kemasan.

Tetapi bagi Teh Cahya, pertanyaannya bukan hanya:

“Apa yang ingin kita katakan tentang produk ini?”

Melainkan:

“Apa yang sebenarnya dapat kita buktikan?”

Dalam perjalanan penelitian dan pengembangan kosmetik, pengujian in vitro dan in vivo menjadi bagian dari upaya melihat manfaat produk secara lebih terukur. Catatan perjalanan Teh Cahya juga menghubungkan perkembangan pengujian tersebut dengan kebutuhan konsumen akan produk yang manfaatnya semakin dapat dipercaya.

Karena sebuah klaim tidak menjadi benar hanya karena terdengar meyakinkan. Dan sebuah bahan tidak otomatis menjadi baik hanya karena sedang populer. Data membantu menjaga batas di antara keduanya.

“A claim should never travel further than the evidence behind it.”

SCIENCE NEEDS MORE THAN ONE ROOM

Sains membutuhkan lebih dari satu ruang

Semakin jauh Teh Cahya masuk ke dunia penelitian, semakin terlihat bahwa pengembangan kosmetik hampir tidak pernah menjadi pekerjaan satu disiplin.

  • Ada farmasi.
  • Kimia.
  • Biologi.
  • Teknologi bahan.
  • Dermatologi.
  • Manufaktur.
  • Regulasi.
  • Packaging.
  • Consumer needs.
  • Dan berbagai keahlian lain yang harus bertemu.

Karena itu, kolaborasi menjadi bagian penting dari cara kerjanya. Bukan karena semua orang harus mengetahui semuanya. Justru karena masing-masing orang membawa kedalaman yang berbeda.

  • Akademisi membawa cara membaca data.
  • Praktisi membawa pengalaman lapangan.
  • Pabrik membawa kenyataan produksi.
  • Brand membawa kebutuhan pengguna.

Pertemuan perspektif-perspektif tersebut membantu sebuah ide dilihat lebih utuh: apakah mungkin diformulasikan, apakah bahan yang dipilih masuk akal, apakah klaimnya terlalu jauh, apakah pengujiannya cukup, dan apakah produk dapat dipertanggungjawabkan ketika akhirnya digunakan.

A LOOP, NOT A STRAIGHT LINE

Sebuah loop, bukan garis lurus

Bagi Teh Cahya, mungkin inilah salah satu bentuk paling nyata dari hubungan antara akademik dan industri.

Bukan ketika keduanya hanya berada dalam satu seminar. Bukan ketika logo institusi muncul berdampingan. Tetapi ketika pengetahuan dari satu ruang membantu menyelesaikan persoalan di ruang lainnya.

  • Penelitian membantu industri membuat keputusan yang lebih baik.
  • Industri memberi penelitian pertanyaan baru untuk dijawab.
  • Formulasi membawa temuan ilmiah lebih dekat ke aplikasi.
  • Pengujian mengembalikan data untuk dibaca kembali.

Dan dari proses itu, muncul pertanyaan berikutnya.

  1. Research
  2. Application
  3. Evidence
  4. New Questions
  5. Research Again

Sebuah loop. Bukan garis lurus.

Inilah mengapa bagi Teh Cahya, pengembangan ekosistem kosmetik Indonesia tidak cukup hanya dengan membuat semakin banyak produk. Yang lebih penting adalah membangun kemampuan di balik produk itu:

  • meneliti,
  • mengembangkan bahan,
  • memformulasikan,
  • menguji,
  • memproduksi,
  • mengevaluasi,
  • dan terus belajar dari apa yang terjadi setelah produk bertemu dunia nyata.

“The real value of research is not only what it discovers. It is also what that discovery makes possible.”

Dan ketika pengetahuan mulai menghasilkan kemungkinan baru, muncul tanggung jawab berikutnya:

pengetahuan itu tidak boleh berhenti pada orang yang menemukannya.

Share the Knowledge. Shape the Future.