Tentang Teh Cahya — 04 / The Return to Science: Never Stop Learning. There’s Always More to Discover. After 20 Years in the Industry, She Returned to University: Not to Start Over, but to Go Deeper.
04 / THE RETURN TO SCIENCE
Never Stop Learning.
There’s Always More to Discover.
Pada titik tertentu, pengalaman bisa membuat seseorang merasa sudah cukup tahu.
Bagi Teh Cahya, yang terjadi justru sebaliknya.
Setelah sekitar dua dekade berada di industri kosmetik, semakin banyak yang ia kerjakan, semakin jelas pula satu hal:
masih ada bagian dari ilmu yang perlu dipahami lebih dalam.
Teh Cahya sudah lama berada di antara formula, product development, customer, makloon, packaging, registrasi, produksi, pabrik, dan berbagai persoalan industri.
Ia juga semakin sering berada di ruang-ruang akademik sebagai praktisi dan dosen tamu. Di sana, ia kembali bertemu dengan profesor, peneliti, akademisi, jurnal, dan berbagai penelitian tentang bahan, kulit, formulasi, efektivitas, dan inovasi kosmetik.
Dan semakin sering dua dunia itu bertemu, semakin terlihat sebuah jarak.
- Di satu sisi, kampus memiliki penelitian, laboratorium, instrumen, mahasiswa, dan banyak gagasan ilmiah.
- Di sisi lain, industri memiliki pasar, regulasi, customer, manufaktur, dan kebutuhan untuk mengubah gagasan menjadi sesuatu yang benar-benar dapat digunakan.
Tetapi di antara keduanya, sering kali masih ada ruang yang belum terhubung dengan baik.
- Sebagian penelitian dapat berhenti pada publikasi sebelum menemukan jalur menuju aplikasi.
- Bahan potensial belum tentu bergerak menjadi bahan baku yang siap dikembangkan.
- Temuan ilmiah belum tentu diterjemahkan menjadi formula.
- Formula belum tentu siap untuk scale-up.
- Dan hasil riset belum tentu menemukan jalannya menuju produk yang benar-benar digunakan manusia.
“Research existed. Industry existed. The bridge was missing.”
OCTOBER 2020
Kembali ke pendidikan formal
Karena itu, ketika Teh Cahya kembali ke pendidikan formal pada Oktober 2020, keputusan itu bukan tentang mengejar jabatan. Bukan pula tentang prestise.
Ia kembali untuk memahami dunia riset dari dalam.
Setelah sekitar dua puluh tahun meninggalkan pendidikan formal, Teh Cahya menempuh Magister Farmasi Universitas Padjadjaran dengan konsentrasi kosmetik.
Kali ini ia datang bukan sebagai mahasiswa yang baru mengenal kosmetik. Ia membawa pengalaman panjang dari R&D, formulasi, brand, makloon, customer, packaging, pabrik, perizinan, dan industri.
Namun pengalaman itu tetap harus berhadapan dengan:
- jurnal,
- metodologi penelitian,
- eksperimen,
- data,
- pembuktian,
- dan disiplin untuk mempertanyakan kembali apa yang selama ini dianggap sudah diketahui.
Experience met scientific method.
Bukan untuk menghapus pengalaman. Tetapi untuk membuatnya lebih tajam.
A DIFFERENT LANGUAGE
Melihat pengalaman dengan bahasa yang berbeda
Di ruang akademik, Teh Cahya mulai melihat pengalaman industrinya dengan bahasa yang berbeda.
- Apa yang dulu terasa sebagai persoalan praktis, kini dapat ditelusuri lewat literatur.
- Apa yang dulu dijawab melalui trial and error, kini bisa dipertanyakan dengan metode penelitian.
- Apa yang dulu terasa sebagai intuisi seorang praktisi, kini harus berhadapan dengan data.
Dan dari situlah satu pola mulai terlihat semakin jelas.
Di hulu ada: research, bahan baku, pengembangan active ingredients, pengujian, dan pembuktian.
Di hilir ada: formula, produk, brand, customer, manufacturing, pasar, dan manusia yang benar-benar menggunakan produk tersebut.
Jika riset berhenti di hulu, ia bisa menjadi pengetahuan yang belum sempat memberi manfaat lebih luas. Jika industri hanya berlari di hilir, ia berisiko kehilangan dasar ilmiah yang membuat produk dapat dipertanggungjawabkan.
Dari berbagai pertemuan dan kolaborasi itu, Teh Cahya melihat begitu banyak potensi yang dimiliki Indonesia. Ada gagasan yang menarik. Ada penelitian yang menjanjikan. Ada akademisi dan peneliti dengan keahlian yang mendalam.
Namun potensi tersebut tidak selalu memiliki jalur yang cukup kuat untuk bergerak dari penelitian menuju penerapan.
FROM THOUGHT TO RESEARCH
Dari pemikiran menjadi penelitian
Menariknya, gagasan itu kemudian tidak berhenti sebagai pemikiran. Ia masuk ke penelitian Teh Cahya sendiri.
Dalam tesis Magister Farmasinya, Teh Cahya meneliti produksi isoflavon aglikon—terutama daidzein dan genistein—yang bersumber dari fermentasi sari kedelai sebagai kandidat bahan aktif untuk pengembangan kosmetik.
Artinya, penelitian tersebut tidak dimulai dari pertanyaan:
“Bahan aktif apa yang tersedia untuk digunakan?”
Ia bergerak satu tahap lebih hulu:
“Bisakah kita mengembangkan kandidat bahan aktifnya sendiri?”
Di sini, kedelai tidak hanya dibaca sebagai bahan yang sudah tersedia untuk dimasukkan ke sebuah formula. Ia menjadi objek penelitian: diproses, dikembangkan, dipelajari, diuji, lalu dipertanyakan kemungkinan aplikasinya di dalam kosmetik.
Penelitian tersebut mempertemukan proses fermentasi, isoflavon kedelai, daidzein, genistein, dan pengembangan kandidat bahan aktif kosmetik.
Dan bagi Teh Cahya, pengalaman ini memiliki arti yang lebih besar. Karena setelah bertahun-tahun bekerja dengan bahan dan formula, kini ia masuk lebih jauh ke wilayah bagaimana sebuah kandidat bahan aktif dapat lahir dari proses penelitian.
Hasil pemikiran dan penelitian mengenai soy isoflavone tersebut kemudian juga bergerak ke ranah publikasi ilmiah. Perjalanan pengembangannya tidak berhenti di sana. Hasil riset tersebut telah dilanjutkan hingga menjadi produk kosmetik yang dipasarkan.
Dengan demikian, penelitian tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menemukan jalan menuju penerapan nyata—dari pengembangan bahan, formulasi, hingga produk yang hadir di pasar.
“Research was no longer something she only read. It became something she could help create.”
THE BRIDGE
Menjadi partner bagi akademisi dan peneliti
Dari sini, posisi Teh Cahya di antara akademik dan industri mulai berubah.
Ia semakin sering menjadi partner bagi akademisi, peneliti, pakar, dan profesor yang memiliki hasil penelitian dan membutuhkan perspektif formulasi untuk membawanya lebih dekat ke aplikasi.
Kolaborasi itu berkembang melalui berbagai lingkungan akademik dan penelitian, termasuk Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung, IPB University, BRIN, serta institusi dan peneliti lainnya.
Hubungan tersebut bukan sekadar kolaborasi nama. Masing-masing membawa sesuatu yang berbeda. Para peneliti dapat datang dengan:
- bahan,
- ekstrak,
- kandidat active ingredient,
- hasil penelitian,
- data awal,
- atau sebuah kemungkinan yang secara ilmiah menarik.
Lalu muncul pertanyaan berikutnya:
Bagaimana ini menjadi formula?
Di situlah pengalaman Teh Cahya sebagai formulator, product developer, dan praktisi industri menemukan fungsi baru. Bukan hanya membuat produk. Tetapi membantu menerjemahkan hasil penelitian menuju formulation possibility dan real-world application.
Karena perjalanan dari hasil penelitian menuju produk tidak terjadi dalam satu langkah. Sebuah bahan yang menunjukkan aktivitas masih harus menghadapi pertanyaan tentang:
- stabilitas,
- kompatibilitas,
- konsentrasi,
- delivery system,
- bentuk sediaan,
- keamanan,
- proses produksi,
- scale-up,
- dan apakah manfaat yang ditemukan pada tahap penelitian masih dapat dipertahankan ketika bahan tersebut masuk ke dalam sebuah formula yang jauh lebih kompleks.
From discovery to formulation, there is another science to solve.
RESEARCHER AND FORMULATOR
Dua pertanyaan untuk bahan yang sama
Seorang researcher dan seorang formulator dapat melihat bahan yang sama melalui pertanyaan yang berbeda.
Peneliti mungkin bertanya:
Apakah bahan ini memiliki aktivitas?
Formulator harus melanjutkan:
Bisakah aktivitas itu dibawa ke dalam produk yang stabil, aman, nyaman digunakan, dapat diproduksi, dan tetap masuk akal secara industri?
Di titik itulah pengalaman Teh Cahya di laboratorium, product development, customer, manufacturing, dan scale-up mulai bertemu dengan dunia penelitian.
Dan semakin sering kolaborasi itu terjadi, semakin kuat pula satu keyakinan: perkembangan industri kosmetik Indonesia tidak cukup hanya diukur dari berapa banyak brand atau produk baru yang muncul. Ekosistemnya juga perlu memiliki kemampuan untuk:
- meneliti sendiri,
- mengembangkan bahan sendiri,
- menguji sendiri,
- memformulasikan sendiri,
- memproduksi sendiri,
- dan membawa hasil penelitian menuju aplikasi nyata.
A CHANGE OF PERSPECTIVE
Perubahan cara melihat
Kembali menjadi mahasiswa setelah dua puluh tahun tentu tidak selalu sederhana.
- Pekerjaan tetap berjalan.
- Pabrik tetap membutuhkan perhatian.
- Customer tetap membutuhkan jawaban.
- Keluarga tetap membutuhkan kehadiran.
Dan di saat yang sama, ada tugas, jurnal, penelitian, dan sistem akademik yang harus dijalani.
Tetapi bagian terpenting dari fase itu bukan kesibukannya. Melainkan perubahan cara melihat.
“Experience can tell us what has worked. Science asks us to understand why.”
Pada Desember 2022, perjalanan S2 itu selesai. Tetapi gelar bukan akhir yang dicari.
Setelahnya, Teh Cahya justru semakin sering berada di antara riset, produk, bahan baku, uji efikasi, formulasi, dan kosmetik berbasis pembuktian.
Ia tidak kembali ke dunia pendidikan untuk meninggalkan industri. Ia kembali agar dapat memahami ilmu lebih dalam—lalu membawa pemahaman itu kembali ke tempat di mana sebuah pengetahuan harus diuji oleh kenyataan.
Ia membawa pengalaman praktiknya kembali ke ilmu—lalu membawa ilmu itu kembali ke dunia nyata.
Dan mungkin di situlah peran yang selama ini sedang terbentuk menjadi semakin jelas: bukan berada hanya di sisi akademik. Bukan pula hanya di sisi industri.
Tetapi ikut membangun jembatan di antara keduanya.
